artikel, bisnis, kehidupan

Pengembangan Energi Terbarukan Oleh Royal Golden Eagle

Image Source: Kompas.com

Kebutuhan energi di dunia terus meningkat. Namun, sayang sekali, pemanfaatan energi fosil yang tidak ramah lingkungan masih tinggi. Hal ini coba diubah oleh Royal Golden Eagle (RGE) dengan mengembangkan beragam jenis energi terbarukan.

Saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara dengan kebutuhan energi tertinggi di Asia Tenggara. Data dari ASEAN Center for Energy pada 2016 menyebutkan bahwa total keperluan energi di negeri kita mencapai 44 persen dari total kebutuhan kawasan.

Akan tetapi, pemenuhan energi di Indonesia sebagian besar masih bergantung terhadap energi fosil. Ini jelas tidak baik. Pasalnya, minyak bumi maupun batu bara lambat laun akan habis. Selain itu, efek kedua jenis sumber energi itu bagi alam sangat buruk.

Maka, diperlukan sebuah langkah serius untuk memenuhi kebutuhan energi pada masa depan. Ini tidak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh penjuru dunia.

Royal Golden Eagle berusaha memberi solusi. Grup yang pada awalnya bernama Raja Garuda Mas ini kini tidak hanya berkecimpung dalam industri pertanian dan perkebunan belaka. Mereka juga menekuni pengembangan energi khususnya beragam jenis energi terbarukan.

RGE memiliki anak perusahaan Pacific Oil & Gas yang secara khusus bergerak dalam industri energi. Namun, pengembangan energi terbarukan tidak hanya terbatas di sana. Di berbagai unit bisnis RGE lain, pemanfaatan energi ramah lingkungan ini juga dilakukan.

Semua demi menjalankan salah satu prinsip kerja perusahaan. Di dalam tubuh Royal Golden Eagle, operasional perusahaan diharapkan mampu berperan aktif dalam menjaga keseimbangan iklim. Pemanfaatan energi terbarukan merupakan salah satu langkah nyata dalam upaya melestarikan lingkungan tetap berfungsi baik.

Lantas, apa saja energi terbarukan yang tengah dikembangkan oleh grup yang bernama awal Raja Garuda Mas ini? Berikut ini beberapa di antaranya.

 

BIOGAS DARI LIMBAH KELAPA SAWIT

Image Source: Paspimonitor

Royal Golden Eagle memiliki anak perusahaan Asian Agri yang berkecimpung dalam industri kelapa sawit. Dalam operasi, mereka tentu membutuhkan energi yang besar. Namun, unit bisnis RGE ini begitu jeli dalam memenuhi kebutuhan energinya. Asian Agri berhasil memanfaatkan limbah pengolahan kelapa sawit menjadi biogas.

Ternyata dalam proses pengolahan kelapa sawit menjadi beragam produk turunannya dihasilkan methan. Jenis gas ini diketahui berbahaya jika dilepaskan begitu saja atmosfer. Gas methan akan memicu pemanasan global karena mendorong terjadinya efek rumah kaca.

Asian Agri tahu persis problem tersebut. Maka, anak perusahaan Royal Golden Eagle ini mencari cara untuk meminimalkan pembuangan gas methan. Tujuannya adalah ikut serta berpartisipasi aktif dalam menjaga keseimbangan iklim yang tertuang dalam prinsip kerja RGE.

Asian Agri akhirnya menemukan jalannya. Gas methan diolah sedemikian rupa untuk menjadi sumber energi listrik. Untuk menghasilkannya, mereka membuat Pembangkit Listri Tenaga Biogas (PLTBG) di sejumlah kawasan di Provinsi Riau, Sumatera Utara, dan Jambi.

Hingga 2016, Asian Agri sudah membuat lima PLTB. Namun, itu baru awal. Unit bisnis RGE yang bergerak dalam industri kelapa sawit ini menargetkan hendak membangun 20 PLTBG pada 2020 nanti.

Langkah ini sangat penting bagi pengembangan energi pada masa depan. Pasalnya, biogas merupakan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Selama masih beroperasi, mereka masih saja bisa memproduksi listrik dari limbahnya.

Lebih hebat lagi, Asian Agri mau menyalurkan energi listrik yang tersisa kepada masyarakat. Satu PLTB yang didirikan menghasilkan listrik dua megawatt. Namun, kebutuhan operasional anak perusahaan RGE ini hanya 700 kilowatt. Akibatnya ada sisa 1,3 megawatt yang akhirnya disalurkan ke masyarakat.

 

ENERGI BIOMASSA DARI BUANGAN PRODUKSI KERTAS

Image Source: Riau Terkini

Ragam industri yang ditekuni oleh anak perusahaan Royal Golden Eagle begitu variatif. Mereka juga tercatat berkecimpung dalam bisnis pulp and paper. Salah satu unit bisnis RGE dalam bidang tersebut adalah APRIL Group.

Seperti anak perusahaan RGE lain, APRIL sangat memerhatikan keseimbangan iklim. Mereka melakukan beragam upaya aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Pengembangan energi terbarukan menjadi salah satu caranya.

Mirip seperti Asian Agri, APRIL berhasil memanfaatkan limbah produksi kertas menjadi energi listrik. Perlu diketahui, dalam pembuatan kertas ada bahan sisa yang dikenal sebagai black liquor. Ini merupakan imbah cair yang mengandung padatan sebesar 70%-72% yang didaur ulang dari digester pada proses pembuatan kertas.

Oleh APRIL, black liquor ternyata tidak hanya dibuang. Mereka berhasil mengolahnya menjadi energi biomassa yang menghasilkan listrik. Akibatnya, APRIL berhasil menekan penggunaan energi fosil.

Sebagai contoh di unit bisnisnya, PT Riau Andalan Pulp & Paper, telah menggunakan biomassa sebagai sumber energi utamanya. Jumlahnya mencapai 87 persen dari total kebutuhan energi perusahaan.

Keberhasilan itu tidak membuat PT RAPP puas. Unit bisnis bagian dari RGE ini masih ingin mengembangkan energi terbarukan lagi. Saat ini mereka tengah berupaya menghasilkan listrik dari methanol.

Dari mana methanol berasal? Ternyata gas itu bisa dihasilkan dari sisa limbah kayu yang terbuang dalam proses produksi pulp and paper. Langkah ini diharapkan akan benar-benar menghilangkan pemanfaatan energi fosil yang tidak ramah lingkungan di dalam tubuh perusahaan.

 

ENERGI BIODIESEL DARI MINYAK KELAPA SAWIT

Image Source: Inside RGE

Banyak yang sudah tahu bahwa kelapa sawit bisa diproduksi menjadi minyak goreng. Namun, sebenarnya masih ada produk lain yang bisa dihasilkan dari kelapa sawit. Salah satunya adalah biodiesel yang merupakan sumber energi terbarukan.

Royal Golden Eagle juga ikut mengembangkan biodiesel. Kegiatan ini dilakukan oleh salah satu anak perusahannya, Apical. Pada 2016, unit bisnis RGE yang bergerak dalam industri kelapa sawit ini mengakuisisi Bio Oils yang merupakan produsen biodiesel besar di Spanyol.

Langkah itu merupakan upaya serius untuk mengembangkan biodiesel di tubuh RGE. Mereka tahu persis, jenis energi ini lebih ramah lingkungan dibanding minyak tanah. Selain itu, biodiesel dapat diperbarui sehingga kelangsungannya dapat dijamin pada masa depan.

Untuk memproduksi biodiesel dibutuhkan minyak nabati. Jenis minyak ini bisa diperoleh dari berbagai tumbuhan yang ada di Indonesia seperti kelapa sawit, jarak, kemiri, hingga kelapa. Setelah melalui proses tertentu dihasilkan biodiesel yang ternyata memiliki beragam keuntungan.

Satu yang utama biodiesel ramah lingkungan. Hasil pembakarannya tidak membuahkan karbon monoksida, sulfur, ataupun hujan asam. Bagi mesin diesel, biodiesel malah menghasilkan energi yang lebih sempurna dibanding solar. Indikasinya terlihat dari ketiadaan asap hitam yang merupakan CO2.

Biasanya mesin diesel menghasilkan gas buangan tersebut jika memakai solar sebagai bahan bakar. Namun, biodiesel tidak memicu kehadiran asap. Aroma yang ditimbulkan mirip dengan minyak goreng dengan bau khasnya.

Dalam jangka panjang, biodiesel mengurangi emisi karbon monoksida dan SO2. Ini yang membuat RGE dengan senang hati mengembangkannya karena berguna dalam menjaga keseimbangan iklim.

 

Inilah beragam jenis energi terbarukan yang dikembangkan oleh Royal Golden Eagle. Selain dapat diperbarui, semuanya ramah lingkungan. Hal ini penting karena grup yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini bertekad untuk ikut serta menjaga kelestarian alam.

 

 

Sumber : http://www.aprilasia.com/id/sukanto-tanoto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *